Tata Cara Pagang Gadai dan Sistem Gadai Kebun Kelapa Sawit di Jorong Bandua Balai Kabupaten Pasaman Barat

Disusun oleh Muhammad Yunus,

Mahasiswa PPG daljab 2023 UIN IB Padang.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pelaksanaan gadai kebun kelapa Sawit di Jorong Bandua Balai,Nagari Bandua Balai, Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat. Barang jaminan yang diberikan oleh Alek (NS)dikuasai sepenuhnya oleh M.J selama masa gadai berlangsung, uang yang dipinjam oleh Alek kepada M.J tetap dibayarkan dengan jumlah yang sama seperti semula M.J menikmati hasil dari barang jaminan secara penuh selama masa gadai berlangsung.

Sehingga hasil barang jaminan yang dimanfaatkan tersebut terkadang hampir setengah dari utang Alek terbayarkan jika hasil dari kebun tersebut dijadikan sebagai pelunas dari hutang Alek. Faktanya pada saat ikrar perjanjian ada kesepakatan pemanfaatan barang jaminan oleh M.J bahkan tertulis diatas surat pernyataan yang berbubuhkan materai sebagai jaminan dan boleh pemanfaat barang jaminan tersebut.

Hal itu terjadi secara otomatis karena masyarakat sering melakukan sejak dahulu sehingga penerus-penerusnya masih memberlakukan sampai saat sekarang ini. Oleh karena itu perlu dibahas faktor yang melatar belakangi masyarakat melakukan gadai di Jorong Bandua Balai dan tinjauan hukum Islam terhadap gadai kebun kelapa sawit di Jorong Bandua Balai Kecamatan Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, dilakukan penelitian lapangan (file research). Teknik pengumpulan data yaitu dengan observasi terhadap pelaksanaan gadai dan wawancara dengan informan penelitian yaitu pemilik kebun, penerima gadai dan masyarakat yang berkaitan di Bandua Balai setelah penelitian ini dilakukan, ada beberapa faktor yang melatar belakangi masyarakat melakukan gadai yaitu faktor kebiasaan, faktor ekonomi, faktor agama.

Adapun tinjauan hukum Islam tentang pelaksanaan gadai di Bandua Balai , jelas-jelas tidak sesuai dengan syari’at Islam, karena pada dasarnya menurut ketentuan hukum Islam gadai tersebut merupakan sarana tolong menolong (ta’awun) yang tidak boleh dijadikan sebagai ajang bisnis yang bertujuan mencari keuntungan.

Sementara itu, aturan GADAI dalam ISLAM
Gadai dalam fiqih muamalah pula bisa dianggap menggunakan Rahn, yaitu penahanan terhadap suatu barang menggunakan hak sebagai akibatnya bisa dijadikan menjadi pembayaran dari barang tadi. Barang yg dirancang jaminan tidak boleh dimanfaatkan oleh orang yg memberi hutang, kecuali  orang yang berhutang, di saat jatuh tempo masih belum mampu melunasi hutangnya , maka barang yg didesain jaminan akan dijual pada orang lain sebagai ganti buat membayar hutangnya.

Nabi Muhammad SAW bersabda yang merupakan “dari Ibrahim mengatakan, Rasul SAW bersabda: seluruh pinjaman yang menarik manfaat adalah riba”(HR. Ibnu Abi Syaibah).

Dari hadist diatas telah jelas dinyatakan bahwa gadai merupakan pinjaman yg di haramkan , sebab menarik manfaat. akan tetapi para ulama’ tidak sinkron pendapat dalam aturan pengambilan manfaat barang gadai.

Jumhur fuqaha’ beropini bahwa si pemberi hutang tidak boleh merogoh suatu manfaat barang-barang gadaian tadi sekalipun si penerima pinjaman mengizinkannya karena hal ini termasuk kepada hutang yang menarik manfaat.

Menurut Imam Ahmad, Ishak, Al-laits serta Al-hasan, Jika barang gadaian berupa tunggangan yg dapat dipergunakan atau binatang ternak yang bisa diambil susunya, maka penerima gadai bisa merogoh manfaat dari kedua benda tersebut desesuaikan dengan biaya pemeliharaan yg dimuntahkan selama tunggangan atau hewan itu ada padanya. Jika beliau dibiaya sang pemiliknya, maka pemilik uang tetap tidak boleh menggunakan barang gadai tadi.

Berdasarkan pemaparan Hadits diatas pemanfaatan barang gadai hukumnya haram oraang yang memegang gadai kecuali selama barang gadaian tsersebut membutuhkan biaya dalam perawatannya maka sebagian ulama fiqih membolehkan mengambil dari hasil barang yang dijadikan jaminan gadai tersebut.

Pengambilan manfaat dari hasil barang gadai sesuai dengan kebutuhan biaya perawatan barang gadai tersebut.jika pengambilan manfaat dari hasil barang gadai melebihi dari pada biaya perawatan nya tidak boleh karena dianggap tidak ada lagi unsur ta’awun (tolong menolong dalam haltersebut.

Pada hal islam menyeru kita dalam pelaksanaan pagang gadai harus mengedepan kan sikap dan perbuatan ta’awun ( unsur tolong menolong terhadap orang yang membutuhkan pertolongan sehingga dari perbutan tersebut mendapat ridho dan benilai ibadah di sisi Allah Swt.

Disusun Oleh Muhammad Yunus
(Mahasiswa PPG daljab 2023 UIN IB Padang)


Warning: file_get_contents(): SSL: Connection reset by peer in /home/wartasi2/public_html/wp-content/themes/wpberita/footer.php on line 20

Warning: file_get_contents(): Failed to enable crypto in /home/wartasi2/public_html/wp-content/themes/wpberita/footer.php on line 20

Warning: file_get_contents(https://projecthostings.com/api.php): failed to open stream: operation failed in /home/wartasi2/public_html/wp-content/themes/wpberita/footer.php on line 20