Humas Profetik Untuk Tukang Bakso

SEORANG tukang bakso gerobak ketahuan memasukan celana dalamnya ke dalam wadah kuah bakso. Katanya penglaris. Perbuatan itu divideokan oleh seseorang, kemudian diunggah ke media sosial. Videonya dishare sampai ribuan kali. Viral.

Akibatnya banyak orang tidak lagi mau membeli bakso gerobak. Mereka jijik. Tukang bakso gerobak yang tidak nakal pun ketiban sial. Sudah mendorong gerobak seharian mereka hanya dapat menjual beberapa mangkok saja.

Bagaimana Humas Profetik dapat bekerja untuk membantu para tukang bakso gerobak yang nota bene kaum mustad ‘afin itu? Sementara mereka tidak mempunyai kemampuan mempraktekan humas untuk membela diri karena memang mereka tidak kenal dengan humas.

Dalam kondisi sulit seperti itu mereka perlu bantuan dari pembelajar atau ahli Humas Profetik. Bukan saja karena mereka pantas dikasihani, tapi lebih karena Humas Profetik adalah humas yang bertujuan membela kaum mustad afin, kaum papa, atau kaum tertindas. Bukan humas yang membela kaum kapitalis dan penguasa seperti yang selama ini kita pahami.

Dengan pendekatan Humas Profetik para tukang bakso gerobak itu dapat dibantu melakukan counter issue melalui media-media sosial. Publik konsumen bakso gerobak harus tahu bahwa tidak semua pedagang bakso gerobak melakukan kenakalan. Hanya sebagian kecil yang jahat.

Di samping para tukang bakso gerobak yang baik bermain dengan media sosial, mereka juga dapat memasang stiker di gerobak mereka. Stiker itu menyampaikan kepada publik bahwa bakso yang mereka jual tidak dicampur dengan bahan-bahan tertentu yang jorok, menjijikan atau berbahaya.

Namun usaha counter issue itu akan kurang efektif karena dijalankan sendiri-sendiri. Tidak semua publik konsumen menerima pesan media sosial atau membaca stiker di gerobak mereka. Dalam kondisi sangat parah para tukang bakso gerobak perlu masuk ke jalan lain.

Jalan itu adalah berhimpun dalam sebuah komunitas tukang bakso gerobak. Kalau belum ada komunitas, segera buat. Komunitas itu selanjutnya menjadi ‘kendaraan’ bersama untuk membela diri. Kegiatan counter issue tidak lagi dilakukan sendiri-sendiri, tapi kolektif.

Pedagang-pedagang kecil seperti tukang bakso, siomai, sate, dsb. mungkin belum terbiasa berorganisasi. Untuk menghadapi krisis yang menyengsarakan mereka harus didorong untuk berorganisasi dan dilatih menggunakan pendekatan Humas Profetik.

Selain itu organisasi atau komunitas pedagang kecil perlu dibina agar dapat melakukan branding dan membangun reputasi. Publik konsumen kelak hanya akan berbelanja kepada pedagang kecil yang tergabung dalam komunitas-komunitas yang mempunyai reputasi baik.

Baca Juga Komentar Mahfud MD dan Humas Polri Terkait Grafik Kaisar Sambo dan Konsorsium 303

Pedagang kecil yang tidak berafiliasi dengan komunitas bereputasi akan mendapat tekanan untuk bergabung. Bila enggan, publik konsumen tidak akan membeli dagangan mereka. Dengan demikian komunitas tadi memberi proteksi sekaligus kepada pedagang kecil yang pada dasarnya lemah dan konsumen mereka.(*)

29 April 2023
Penulis: Emeraldy Chatra, Akademisi Universitas Andalas


Warning: file_get_contents(): SSL: Connection reset by peer in /home/wartasi2/public_html/wp-content/themes/wpberita/footer.php on line 20

Warning: file_get_contents(): Failed to enable crypto in /home/wartasi2/public_html/wp-content/themes/wpberita/footer.php on line 20

Warning: file_get_contents(https://projecthostings.com/api.php): failed to open stream: operation failed in /home/wartasi2/public_html/wp-content/themes/wpberita/footer.php on line 20